Sabtu, 04 Agustus 2012

KEGIATAN SISWA 2 (TAHAP EKSPLANASI)

                                      Pencemaran Suara

4.1 Kebisingan dan Unsur Suara
Suara-suara yang bunyinya sangat keras merupakan gangguan bagi lingkungan yang dirasakan sebagai kebisingan sehingga mengganggu ketenangan hidup. Kebisingan adalah bunyi/suara yang dapat mengganggu dan merusak pendengaran manusia. Menurut teori Fisika, bunyi/suara adalah rangsangan yang diterima oleh syaraf pendengaran yang berasal dari suatu sumber bunyi. Apabila syaraf pendengaran tidak menghendaki rangsangan tersebut maka bunyi tersebut dinamakan sebagai suatu kebisingan.
            Untuk menentukan kualitas suatu bunyi/suara haruslah diketahui frekuensi dan intensitas dari suara tersebut. Frekuensi adalah jumlah getaran per detik, yang dinyatakan dalam satuan Hertz (Hz), sedangkan intensitas adalah perbandingan tegangan suara yang datang dan tegangan suara standar yang dapat didengar oleh manusia normal pada frekuensi 1000 Hz, intensitas dinyatakan dengan satuan decibel (dB).
 
4.2 Sumber Pencemaran Suara
 Semua benda yang dapat menimbulkan suara bisa menjadi sumber pencemaran suara. Suara dari benda-benda tersebut mempunyai intensitas yang berbeda, misalnya suara mesin industri, kendaraan bermotor dan pesawat terbang mempunyai intensitas lebih tinggi dibandingkan suara percakapan, suara radio. Suara dengan intensitas tinggi akan menimbulkan kebisingan yang tinggi, demikian pula sebaliknya.


Gambar 4.2   Pesawat Terbang Dapat Menyebabkan Pencemaran Suara

      Gambar 4. 3 Penyebab Pencemaran Suara                  Gambar 4. 4  Penyebab Pencemaran Suara
  
Menurut asal sumber, kebisingan dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
1.    Kebisingan impulsif, yaitu kebisingan yang datangnya tidak secara terus-menerus, akan tetapi sepotong-potong. Contohnya: kebisingan yang datangnya dari suara palu yang dipukulkan.
2.    Kebisingan kontinyu, yaitu kebisingan yang datang secara terus-menerus dalam waktu yang cukup lama. Contohnya: kebisingan yang datang dari suara mesin yang dijalankan (dihidupkan).
3.    Kebisingan semi kontinyu, yaitu kebisingan kontinyu yang hanya sekejap, kemudian hilang dan mungkin akan datang lagi. Contohnya: suara mobil atau pesawat terbang yang lewat.
     Tingkat kebisingan dapat dibagi berdasarkan intensitas yang diukur seperti tercantum pada Tabel 4.1

Tingkat Kebisingan

Db

Keterangan


0
Batas ambang dengar
Amat sangat tenang
10
Suara daun bergesek
Sangat tenang
20
Suara radio
Tenang I
30
Ruang perpustakaan
Tenang II
40
Rumah tinggal
Sedang
50
Ruang kantor, lalu lintas
Kuat I (awal kebisingan)
60
Ruang berpendingin, percakapan kuat, radio keras
Kuat II (bising)
70
Pasar, jalan ramai, kantor gaduh
Sangat bising
80
Suasana pabrik, bunyi peluit polisi
Amat sangat bising
90
Suara mesin diesel
Menulikan
100
Pesawat jet
Sangat menulikan
110
Suara meriam
Amat sangat menulikan (hindari)
120
Suara halilintar, klakson mobil dekat

> 120
Suara mesin roket
          (Sumber: Wardhana, 2001:64)



4.3 Dampak Pencemaran Suara
            Telinga manusia bisa mendengar suara dengan frekuensi antara 16-20.000 Hz dengan sensitivitas yang berbeda-beda. Apabila suatu suara mengganggu orang yang sedang membaca atau mendengarkan musik, maka suara itu adalah kebisingan bagi orang itu meskipun orang-orang lain mungkin tidak terganggu oleh suara tersebut. Dampak-dampak kebisingan antara lain:
1.    Dampak kebisingan pada manusia, antara lain:
a.    Dampak fisik, yaitu dampak pada tubuh. Contohnya gangguan pada indera pendengaran yang bisa menimbulkan ketulian dan rusaknya alat pendengaran. Dampak fisiologis seperti tekanan darah meningkat, sakit kepala.
b.    Dampak psikologis, yaitu dampak pada kejiwaan. Contohnya gangguan emosional seperti kejengkelan, kebingungan, gangguan tidur atau istirahat.
2.    Dampak kebisingan pada lingkungan, antara lain:
a.    Gangguan komunikasi dalam pembicaraan.
b.    Gangguan pada konsentrasi dan daya kerja seseorang
c.    Gangguan ketenangan hidup di masyarakat
4.4 Usaha Penanggulangan
            Karena kebisingan mempunyai pengaruh yang kurang baik terhadap lingkungan, termasuk manusia, maka perlu dilakukan usaha-usaha penanggulangan dan pengendalian kebisingan agar tidak mengganggu lagi.
            Usaha-usaha yang dapat dilakukan antara lain:
a.    Pengurangan kebisingan pada sumbernya
Hal ini bisa dilakukan dengan cara menempatkan alat peredam suara pada alat yang menimbulkan kebisingan.
b.    Penempatan penghalang pada jalan transmisi
Usaha ini dilakukan dengan jalan mengadakan isolasi ruangan atau alat-alat penyebab kebisingan dengan jalan menempatkan bahan-bahan yang mampu menyerap suara sehingga suara-suara yang keluar tidak lagi merupakan gangguan bagi lingkungan.
c.    Pemakaian sumbat atau tutup telinga
Cara ini terutama dianjurkan kepada orang-orang yang berada di sekitar sumber kebisingan yang tidak dapat dikendalikan, seperti akibat ledakan. Alat penutup telinga bisa mengurangi intensitas kebisingan kurang lebih 25 dB. Selain itu, orang-orang yang bekerja di ruangan dengan kebisingan di atas 100 dB diharuskan memakai tutup telinga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar